Sabtu, 13 Oktober 2018

4 Perspektif untuk Mengatasi Krisis Pangan, Mungkinkah?

            
Kekeringan dan Krisis Pangan
Ilustrasi. Sumber: https://tinyurl.com/ydga224c
               Dunia kita cukup luas dengan berbagai sumber daya alamnya. Luasnya sumber daya alam akan menentukan sumber pangan yang tersedia bagi umat manusia. Namun dalam dunia ini ada berbagai masalah yang dihadapi umat manusia, salah satunya adalah krisis pangan. Krisis pangan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan dalam mengakses dan memperoleh baik secara gratis ataupun berbayar. Ada berbagai masalah yang menyebabkan terjadinya krisis pangan. Beberapa sumber utama dari krisis pangan yang terjadi di dunia adalah adanya masalah terhadap jumlah penduduk dan ketersediaan pangan itu sendiri. Terjadi ketidakseimbangan antara peningkatan jumlah penduduk dengan usaha untuk tetap menjaga ketersedian pangan. Ketersediaan pangan sendiri dipengaruhi oleh pelestarian lingkungan beserta ekosistemnya secara berkelanjutan. Namun dewasa ini, hal tersebut sulit dilakukan. Masalah pertumbuhan jumlah manusia yang pesat juga diperparah dengan terjadinya kelangkaan air bersih, kerusakan tanah seperti erosi, dan perubahan iklim. Masalah-masalah tersebut semakin memperparah krisis pangan global. Banyaknya perspektif tentang penyebab-penyebab krisis pangan menghasilkan berbagai perspektif untuk penyelesaiannya juga. Berikut 4 perspektif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah krisis pangan global:

1. Teknologi untuk meningkatkan produksi pangan
Teknologi seperti rekayasa genetika digunakan untuk meningkatkan hasil produksi di bidang pangan. Rekayasa genetika dapat mengembangkan varietas tanaman sehingga tahan terhadap berbagai macam penyakit dan kondisi lingkungan tertentu. Contoh rekayasa genetika sudah sukses dikembangkan di India, yaitu padi yang dapat tumbuh di tanah dengan tingkat fosfor rendah. Ada pertentangan mengenai hal ini. Pertama tanaman transgenik dianggap dapat memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan manusia karena. Kedua beberapa pendapat menyatakan krisis pangan bukan disebabkan oleh produksi pangan, melainkan karena kebutuhan kalori masyarakat tetap terpenuhi walaupun populasi terus bertambah yang mengakibatkan terjadi krisis pangan itu sendiri. 

2. Menerapkan keadilan dan distribusi yang merata
Distribusi pangan dinilai tidak merata karena terdapat 800 juta orang mengalami kelaparan sementara 1,3 miliar orang lainnya mengalami obesitas. Untuk itu terdapat 3 strategi untuk mengatasinya. Strategi pertama adalah mengurangi penggunaan tanaman yang dapat dikonsumsi sebagai bahan bakar karena dianggap mampu mengurangi harga bahan pangan yang dijual sehingga dapat mencukupi kebutuhan masyarakat kurang mampu. Namun cara ini dinilai menghasilkan hasil yang sama karena akan terjadi kelangkaan bahan bakar dan mengakibatkan terjadi inflasi yang berujung pada kenaikan harga bahan pangan. Strategi kedua adalah meningkatkan distribusi langsung melalui bantuan makanan dari negara yang ketersediaan pangannya terbilang banyak, tetapi bantuan tersebut jika dilakukan dalam jangka waktu panjang dapat menjadi bencana bagi pasar lokal di negara asal karena menurunkan pendapatan pertanian di daerah tersebut. Strategi yang terakhir, melakukan perubahan pola makan dengan mengurangi konsumsi daging atau masyarakat mengganti pakan ternak menjadi rerumputan sehingga lahan dapat ditanam bahan pangan yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat dan distribusinya merata. 

3. Menggalakkan kedaulatan pangan lokal
Keamanan pangan perlu berpusat pada kedaulatan sistem pangan lokal dengan melibatkan pertanian yang organik, bervariasi,  menyediakan alternatif, dan bersifat lokal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengaplikasian biologically diverse farms atau pertanian biodinamis tidak dapat memproduksi bahan pangan yang cukup untuk memastikan ketahanan pangan. Pertanian dengan metode ini memiliki hasil panen yang lebih rendah dibandingkan dengan pertanian dengan teknik konvensional. Maka dari itu, para petani yang menerapkan pertanian konvensional dapat mengurangi dampak lingkungan mereka dan tetap mempertahankan hasil panen maksimal.

4. Kegagalan pasar, kedaulatan, dan peraturan
Krisis pangan merupakan salah satu pengaruh dari eksternalitas negatif dari suatu aktivitas ekonomi atau dapat disebut sebagai kegagalan pasar. Bentuk eksternalitas yang sering terjadi seperti subsidi yang tidak tepat metode atau sasarannya, terjadinya keracunan makanan, dan limbah makanan yang diolah dengan tidak baik. Eksternalitas negatif dapat dikurangi dengan membebankan biaya produksi dan distribusi kepada konsumen agar masyarakat lebih aware dan lebih menghargai makanan, serta melakukan pengolahan pangan yang lebih baik dan tepat sehingga dapat menambah umur simpan produk pangan dan keamanan produk pangan. Hal itu akan meminimalkan keracunan pangan dan limbah produksi.

         Setiap perspektif mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Permasalahan krisis  pangan tidak dapat diatasi dengan salah satu perspektif karena setiap perspektif memiliki argumennya sendiri. Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah krisis pangan perlu adanya kolaborasi atau menyatukan ide dari setiap pandangan dan setiap  golongan dengan cara mengesampingkan kepentingan setiap golongan demi masa depan dunia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar