Minggu, 08 November 2015

Tanaman Kecombrang

Indonesia adalah negara yang sangat besar, kaya dan beraneka ragam. Keanekaragaman dapat terlihat pada banyaknya suku, ras, adat/tradisi, maupun sumber daya yang ada di Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan, tersusun atas 17.500 pulau dengan lima pulau besar, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi serta Papua. Kelima pulau ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga setiap pulau memiliki perbedaan, baik pada sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Garis khatulistiwa yang melewati negara Indonesia, tepatnya Pulau Kalimantan menyebabkan negara Indonesia berada di daerah zamrud khatulistiwa. Keberadaan Indonesia di daerah zamrud khatulistiwa inilah yang menjadikan Indonesia negara yang beriklim tropis. Iklim tropis ini menyebabkan adanya keanekaragaman tumbuhan di Indonesia. Lebih dari 6000 jenis tumbuhan berbunga, baik yang liar maupun budidaya, dikenali dan dimanfaatkan untuk keperluan bahan makanan, pakaian, perlindungan dan obat-obatan. Masyarakat Indonesia mengonsumsi tidak kurang dari 100 jenis tumbuhan dan biji-bijan sebagai sumber karbohidrat. Tidak kurang dari 100 jenis kacang-kacangan, 450 jenis buah-buahan serta 250 jenis sayur-sayuran dan jamur. (Walujo, Eko B., H. Soedjito, E.A. Widjaja & Mien A. Rifai, 1991)
Tanaman kecombrang menjadi salah satu dari antara sekian banyaknya keanekaragaman tumbuhan yang ada di Indonesia. Tanaman kecombrang merupakan salah satu dari sekian spesies dari anggota genus Etlingera yang banyak ditemukan dan dibudidayakan di negara-negara beriklim tropis dan sub-tropis yang penyebarannya terkonsentrasi di Benua Asia. Tanaman kecombrang merupakan tanaman asli Negara Indonesia, Semenanjung Malaysia dan Thailand (Chan, Eric W.C., Lim, Y.Y., Wong, S.K., 2011). Di Pulau Jawa, 9 spesies dari genus Etlingera telah diketahui (Poulsen AD, 2007). Di Semenanjung Malaysia, 15 spesies telah tercatat (Lim CK, 2001). Tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki panggilan yang berbeda untuk tanaman kecombrang. Di Medan, kecombrang lebih dikenal dengan nama bunga kencong. Oleh orang Sunda, kecombrang lebih dikenal dengan nama honje. Di negara Malaysia, kecombrang dikenal dengan nama bunga kantan. Sedangkan, di negara Thailand, kecombrang dinamai kaa laa.

Meskipun di Indonesia kecombrang cukup sering ditemukan dan dijual di pasar-pasar tradisional, tanaman kecombrang masih sangat jarang diketahui dan dikenal oleh masyarakat Indonesia secara umum. Kurangnya pengenalan masyarakat akan tanaman kecombrang inilah yang menjadi salah satu faktor pemanfaatan tanaman kecombrang oleh masyarakat Indonesia masih sangat jarang ditemui. Padahal, banyak penelitian-penelitian yang membuktikan bahwa tanaman kecombrang merupakan tanaman yang berpotensi dan kaya akan manfaat. Dalam bidang pertanian dan pangan, tanaman kecombrang dapat dimanfaatkan sebagai obat penanggulangan penyebaran jamur. Menurut Naufalin (2005), ekstrak bunga kecombrang dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur perusak pangan seperti Aspergillus flavus, Penicillium funiculosum dan Rhizopus oligoporus. Penelitian lanjutan juga dilakukan oleh Aries Pratomo dalam mengidentifikasi pemanfaatan tanaman kecombrang dalam pengendalian jamur Chalaropsis sp. yang menyebabkan penyakit yang menyerang buah Salak. Dalam bidang pangan, tanaman kecombrang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet. Menurut penelitian dari Rukmini dan Naufalin (2010) menyatakan bahwa penambahan tanaman kecombrang dengan kadar 3% dapat menambahkan umur ketahanan tahu menjadi 3 hari. Sedangkan, tahu segar biasa tanpa penggunaan kecombrang sebagai bahan pengawet memiliki daya ketahanan hanya selama 6-8 jam. Penulis meyakini bahwa tanaman kecombrang memiliki potensi yang sangat besar untuk dibudidayakan, dimanfaatkan dan dikembangkan untuk pemanfaatan yang lebih lanjut. Oleh karena itu, tanaman kecombrang yang termasuk salah satu dari banyaknya keanekaragaman hayati di negara Indonesia ini perlu dikelola secara optimal. Berikut disajikan tentang video tanaman kecombrang. 


Sekian post dari saya silahkan berikan komentar yang membangun terima kasih




Tidak ada komentar:

Posting Komentar