Dewasa ini, makanan tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang dapat mengenyangkan saja. Beberapa golongan masyarakat sudah memikirkan makanan yang dapat menyehatkan di samping fungsi pokoknya. Salah satu makanan yang dimaksud adalah makanan gluten free. Seperti namanya, makanan ini bebas dari senyawa gluten. Gluten merupakan salah satu jenis protein yang sangat berpengaruh pada proses pemanggangan produk tepung-tepungan terutama pada daya kembangnya. Gluten merupakan kombinasi dari protein gliadin dan glutenin antara air dan tepung. Gluten bila dikonsumsi penderita celiac disease dapat mengakibatkan masalah pencernaan karena tubuh si penderita tidak mampu mencerna gluten.
Saat ini, produk gluten free digemari dan menjadi tren bagi sebagian kaum masyarakat. Di Kanada produk gluten free sangat digemari. Di sebagian toko yang tersebar di Kanada pasti menjual produk yang tidak mengandung gluten di dalamnya. Produk gluten free dipercaya dapat membuat orang yang mengonsumsinya lebih sehat. Banyaknya artikel tentang itu dan kesaksian dari berbagai artis yang membuat banyak orang beralih dan lebih memilih produk gluten free sebagai preferensi mereka. Produk gluten free terbilang dapat mengecilkan ukuran perut dan juga menurunkan berat badan. Namun, produk gluten free lebih mahal karena lebih sulit untuk dibuat. Selain itu, branding strategies perlu dipikirkan karena perlu dibahas dari sisi kesehatan agar lebih menjual. Kebalikannya, penderita celiac disease tidak banyak penderitanya seperti penyakit-penyakit pada umumnya. Maka dari itu, pasar yang menjadi target tentu sedikit dan akan terkesan sia-sia manufaktur dari produk gluten free karena keuntungan yang didapat tidak seberapa.
Bicara soal manufaktur pun produk tidak sebaik yang diiklankan. Rata-rata produk gluten free memiliki kadar garam sodium, gula, lemak, dan kalori yang lebih tinggi, serta seratnya lebih rendah. Akibatnya penyakit obesitas, overweight, resistensi inulin, dan sindrom metabolik berisiko lebih tinggi dialami oleh pengonsumsi. Jadi produk gluten free penting ga sih? Menurut saya kurang perlu karena lebih banyak ketidakuntungannya dibanding keuntungannya. Bagaimana menurut kalian? Bila ingin melihat tren produk gluten free di Kanada dapat melihat video di bawah. Sekian untuk kali ini.
Dunia kita cukup luas dengan berbagai sumber daya alamnya. Luasnya sumber daya alam akan menentukan sumber pangan yang tersedia bagi umat manusia. Namun dalam dunia ini ada berbagai masalah yang dihadapi umat manusia, salah satunya adalah krisis pangan. Krisis pangan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan dalam mengakses dan memperoleh baik secara gratis ataupun berbayar. Ada berbagai masalah yang menyebabkan terjadinya krisis pangan. Beberapa sumber utama dari krisis pangan yang terjadi di dunia adalah adanya masalah terhadap jumlah penduduk dan ketersediaan pangan itu sendiri. Terjadi ketidakseimbangan antara peningkatan jumlah penduduk dengan usaha untuk tetap menjaga ketersedian pangan. Ketersediaan pangan sendiri dipengaruhi oleh pelestarian lingkungan beserta ekosistemnya secara berkelanjutan. Namun dewasa ini, hal tersebut sulit dilakukan. Masalah pertumbuhan jumlah manusia yang pesat juga diperparah dengan terjadinya kelangkaan air bersih, kerusakan tanah seperti erosi, dan perubahan iklim. Masalah-masalah tersebut semakin memperparah krisis pangan global. Banyaknya perspektif tentang penyebab-penyebab krisis pangan menghasilkan berbagai perspektif untuk penyelesaiannya juga. Berikut 4 perspektif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah krisis pangan global:
1. Teknologi untuk meningkatkan produksi pangan
Teknologi seperti rekayasa genetika digunakan untuk meningkatkan hasil produksi di bidang pangan. Rekayasa genetika dapat mengembangkan varietas tanaman sehingga tahan terhadap berbagai macam penyakit dan kondisi lingkungan tertentu. Contoh rekayasa genetika sudah sukses dikembangkan di India, yaitu padi yang dapat tumbuh di tanah dengan tingkat fosfor rendah. Ada pertentangan mengenai hal ini. Pertama tanaman transgenik dianggap dapat memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan manusia karena. Kedua beberapa pendapat menyatakan krisis pangan bukan disebabkan oleh produksi pangan, melainkan karena kebutuhan kalori masyarakat tetap terpenuhi walaupun populasi terus bertambah yang mengakibatkan terjadi krisis pangan itu sendiri.
2. Menerapkan keadilan dan distribusi yang merata
Distribusi pangan dinilai tidak merata karena terdapat 800 juta orang mengalami kelaparan sementara 1,3 miliar orang lainnya mengalami obesitas. Untuk itu terdapat 3 strategi untuk mengatasinya. Strategi pertama adalah mengurangi penggunaan tanaman yang dapat dikonsumsi sebagai bahan bakar karena dianggap mampu mengurangi harga bahan pangan yang dijual sehingga dapat mencukupi kebutuhan masyarakat kurang mampu. Namun cara ini dinilai menghasilkan hasil yang sama karena akan terjadi kelangkaan bahan bakar dan mengakibatkan terjadi inflasi yang berujung pada kenaikan harga bahan pangan. Strategi kedua adalah meningkatkan distribusi langsung melalui bantuan makanan dari negara yang ketersediaan pangannya terbilang banyak, tetapi bantuan tersebut jika dilakukan dalam jangka waktu panjang dapat menjadi bencana bagi pasar lokal di negara asal karena menurunkan pendapatan pertanian di daerah tersebut. Strategi yang terakhir, melakukan perubahan pola makan dengan mengurangi konsumsi daging atau masyarakat mengganti pakan ternak menjadi rerumputan sehingga lahan dapat ditanam bahan pangan yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat dan distribusinya merata.
3. Menggalakkan kedaulatan pangan lokal
Keamanan pangan perlu berpusat pada kedaulatan sistem pangan lokal dengan melibatkan pertanian yang organik, bervariasi, menyediakan alternatif, dan bersifat lokal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengaplikasian biologically diverse farms atau pertanian biodinamis tidak dapat memproduksi bahan pangan yang cukup untuk memastikan ketahanan pangan. Pertanian dengan metode ini memiliki hasil panen yang lebih rendah dibandingkan dengan pertanian dengan teknik konvensional. Maka dari itu, para petani yang menerapkan pertanian konvensional dapat mengurangi dampak lingkungan mereka dan tetap mempertahankan hasil panen maksimal.
4. Kegagalan pasar, kedaulatan, dan peraturan
Krisis pangan merupakan salah satu pengaruh dari eksternalitas negatif dari suatu aktivitas ekonomi atau dapat disebut sebagai kegagalan pasar. Bentuk eksternalitas yang sering terjadi seperti subsidi yang tidak tepat metode atau sasarannya, terjadinya keracunan makanan, dan limbah makanan yang diolah dengan tidak baik. Eksternalitas negatif dapat dikurangi dengan membebankan biaya produksi dan distribusi kepada konsumen agar masyarakat lebih aware dan lebih menghargai makanan, serta melakukan pengolahan pangan yang lebih baik dan tepat sehingga dapat menambah umur simpan produk pangan dan keamanan produk pangan. Hal itu akan meminimalkan keracunan pangan dan limbah produksi.
Setiap perspektif mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Permasalahan krisis pangan tidak dapat diatasi dengan salah satu perspektif karena setiap perspektif memiliki argumennya sendiri. Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah krisis pangan perlu adanya kolaborasi atau menyatukan ide dari setiap pandangan dan setiap golongan dengan cara mengesampingkan kepentingan setiap golongan demi masa depan dunia yang lebih baik.
Pangan merupakan hal yang sangat penting bagi hidup manusia. Pangan dibutuhkan seluruh kalangan mulai dari rakyat kecil maupun rakyat atas. Sistem pangan di dunia diketahui telah berubah dari waktu ke waktu. Terjadi 2 pergeseran di sistem pangan, yaitu:
- Pertumbuhan yang cepat pada ritel modern. Hal ini biasanya berbarengan dengan transisi ekonomi yang banyak dilakukan negara-negara Eropa Timur
- Pergeseran rantai pangan tradisional ke modern. Hal ini dapat disebut sebagai transisi nutrisi yang menyebabkan pergeseran pola makan di satu daerah bahkan lebih. Saat ini, semakin banyak negara yang semakin kaya. Akibatnya banyak makanan baru yang bermunculan. Iklan-iklan yang ditonjolkan semakin persuasif. Semua itu berdampak pada perubahan pola makan akibat transisi atau pergeseran tersebut.
Adanya transisi akan memperlengkapi dan memperluas isu-isu yang ada di dunia terutama isu pangan. 2 isu tersebut di antaranya adalah:
- Kelaparan dan kekurangan gizi.
- Kelebihan berat badan dan obesitas.
Banyak yang tidak mau merubah pola makannya menjadi sehat karena adanya transisi tersebut. Seperti contoh negara Tiongkok dan Meksiko lebih banyak mengonsumsi makanan olahan (orang desanya juga) daripada makanan homemade. Makanan olahan lebih tinggi kalori dan lebih dipreferensikan sehingga orang-orang semakin banyak jumlahnya yang mengonsumsi processed food. Makanan olahan di negara-negara dengan pendapatan yang rendah trennya naik terus setiap tahun.
Masalah selalu terkait dari segi gizi dan kuantitas bila bicara soal transisi pangan. Maksudnya tidak ada keamanan pangan yang ditawarkan dari makanan segar. Informasi yang kurang dari gizi pangan-pangan segar di low income countries menyebabkan makanan yang diasup sifatnya empty calories (tinggi gula dan lemak saja) menyebabkan malnutrisi dan obesitas. Gizi harus diperhatikan dari generasi sebelumnya, tidak cukup dari 1000 hari lahir dan sejak bayi saja karena gizi Sejak si ibu remaja gizinya harus diperhatikan agar keturunannya terhindar dari masalah-masalah di atas.
Keadaan di Indonesia secara umum adalah kurangnya pendidikan di salah satu sektor masyarakat yang berpenghasilan rendah. Selain itu, kondisi perekonomian juga sedang catching up dengan negara-negara maju mengakibatkan terjadinya peralihan pasar yang dipengaruhi oleh sifat oportunis dari pasar ritel dengan memasarkan makanan enak yang sifatnya empty calories seperti yang telah diutarakan di atas. Transisi tidak selamanya buruk. Transisi harus dikendalikan dan bila tidak dikendalikan dapat ke mana-mana.
Pengendali yang terlibat seperti stakeholder perusahaan harus mengendalikan agar tidak ke mana-mana. Contoh di Indonesia yang melakukan transisi pangan adalah masyarakat Danau Tondano yang memanfaatkan SDAnya seperti yang saya sudah post di tulisan sebelum-sebelumnya dapat dilihat di https://tinyurl.com/y8zb8s99. Sebaiknya transisi pangan terus diperhatikan dan mulai digiatkan dari berbagai pihak agar Indonesia semakin maju. Namun, perlu diingat transisi harus mengarah pada hal yang lebih positif agar dapat menjadi budaya kita Sekian untuk tulsian kali ini.
Bumi kita menyimpan sangat banyak kekayaan alam yang sangat melimpah. Salah satunya adalah Honolulu yang merupakan ibu kota negara bagian Hawaii, Amerika Serikat yang terletak di tengah Samudera Pasifik dan terletak di bagian paling utara Pasifik. Iklim di kepulauan Hawaii adalah subtropis lembab. Komoditas perikanan menjadi salah satu sumber perekonomian Kepulauan Hawaii karena sekelilingnya merupakan wilayah perairan Pasifik. Makanan laut telah menjadi pokok makanan yang penting dalam pola makan masyarakat Hawaii sejak kedatangan pelayaran Polinesia, yaitu pada tahun 300 setelah Masehi.
Ada banyak sekali tempat pengolahan ikan di Honolulu. Salah satunya adalah Honolulu Fish Processing Co. yang menyediakan berbagai jenis ikan seperti ikan big eye tuna (Thunnus obesus), ikan gindara (Lepidocybium flavobrunneum), dan ikan salmon Chinook (Oncorhynchus tshawytscha). Terdapat 2 jenis filet ikan yang dijual di sana, yaitu Natural cut yang filet Ikannya masih memiliki kulit dan bloodline, dan Signature cut yang filet ikannya masih memiliki kulit dan dibersihkan bagian bloodline-nya.
Ikan yang diolah adalah ikan segar dan ikan beku. Penanganan yang lambat pada ikan segar dan beku akan memengaruhi tingginya nilai histamin didominasi oleh bakteri gram negatif. Histamin dapat mengakibatkan terjadinya keracunan Histamine Fish Poisoning (HFP) apabila histaminnya terdapat 200 mg/kg. Gejala-gejala yang ditimbulkan seperti gatal, kulit kemerahan, mual, muntah, dan diare. Rigor mortis pada ikan dihindari karena memengaruhi tekstur ikan sehingga menjadi keras dan tidak lagi elastis. Rigor mortis dapat diperlambat dengan penyimpanan pada suhu dingin. Selain karena rigor mortis, kerusakan ikan dapat dipicu dari senyawa TMAO (trimetilaminoksida) yang menjadi TMA (trimetilamin) dan formaldehida. TMA merupakan penyebab bau busuk ikan.
Dalam pengolahan ikan segar, hal pertama yang dilakukan adalah pembersihan dan pemotongan. Langkah pertama yang dilakukan dalam pemotongan yaitu dengan memotong kepala terlebih dahulu. Selanjutnya, pisau ditusukkan ke dasar sirip dada dan dipotong ke arah punggung mengikuti garis operkulum (tutup insang). Organ dalam tubuh ikan juga harus dibuang, karena terdapat banyak bakteri pada organ yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kontaminasi. Pembersihan menggunakan air juga dilakukan selama pemotongan untuk membuang sisa darah yang menempel pada daging ikan. Pemotongan dilanjutkan dengan pembentukan loin yang dilakukan secara manual dengan cara memotong daging ikan mulai dari ekor ke arah kepala mengikuti lateral line hingga daging kedua sisi ikan terpisah dari tulang punggungnya. Satu ekor ikan dipotong menjadi empat bagian loin. Daging gelap yang berada di sekitar garis lateral line dibersihkan bersamaan dengan sisa tulang di sekitarnya yang bertujuan untuk mengurangi kadar histamin, disebabkan oleh banyaknya bakteri berkumpul di mioglobin pada bagian daging gelap, serta mengurangi risiko oksidasi karena banyak kandungan mioglobin, lemak, dan glikogen. Kemudian dilanjutkan perapihan untuk membuang sisa daging hitam dan sisa-sisa kulit. Trimming juga dilakukan pada bagian tulang, sirip, sisa kulit, dan lemak.
Selanjutnya, diberi proses pengemasan berupa alat absorbent pad untuk menyerap cairan. Tingkat aktivitas air dapat dikontrol dengan absorbent pad yang diletakkan di bagian bawah ikan. Selain itu, ditambahkan 10k Cryovac® Bag yang berfungsi sebagai pengemas vakum ketat sehingga untuk mendinginkan bahan makan dengan cepat. Penggunaan bahan pengemas ini dapat mencegah kontaminasi silang, menjaga warna produk, mencegah freeze burn, dan mencegah dehidrasi pada permukaan. Ice gel merupakan medium pendingin yang bersifat reusable sehingga berpotensi untuk dikembangkan pada kemasan transportasi komoditas bahan pangan. Dalam memanfaatkan ice gel sebagai medium pendingin, perlu adanya kemasan agar suhu dingin tersebut tidak mudah keluar. Styrofoam merupakan salah satu kemasan yang dapat menahan suhu dingin yang disebabkan oleh sifat styrofoam yang tidak menghantarkan panas, mudah didapatkan, ringan, dan dapat dipakai berulang. Mylar bag memiliki sifat termal yang tinggi, karena memiliki permukaan mengkilat sehingga dapat memantulkan panas, cahaya, ultraviolet, energi inframerah kembali ke sumbernya.
Setelah ikan segar diolah dan sebelum dikonsumsi, biasanya ikan disimpan terlebih dahulu. Penyimpanan ikan dalam ruang pendingin merupakan salah satu metode pengawetan untuk mempertahankan kualitas ikan selama pengolahan dan penyimpanan. Penyimpanan pada suhu rendah dapat mencegah reaksi kimia dan biokimia yang tidak diinginkan, serta menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk. Setiap aspek dalam pengolahan ikan harus diperhatikan dengan baik agar tidak menyebabkan kualitas ikan menjadi buruk saat sampai ke konsumen. Bila ingin melihat bagaimana pengolahan ikan-ikan di Honolulu Fish Processing Co, dapat melihat video yang saya lampirkan di bawah ini. Sekian untuk tulisan kali ini.
Peta Negara Indonesia. Sumber: https://tinyurl.com/y96vro5l
Indonesia merupakan negara yang sangat luas. Negara ini juga memiliki banyak suku dan budaya. Antara budaya dan kebiasaan pangan merupakan kedua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling memengaruhi secara timbal balik. Ada banyak sekali fakta-fakta menarik yang saya yakin sebagian besar pembaca belum dapat mengetahui dengan benar, bahkan sama sekali belum diketahui atau didengar sebelumnya. Berikut akan saya sajikan 3 fakta yang berhubungan dengan budaya dan makanan di Indonesia.
Indonesia dibagi menjadi 3 wilayah, yaitu barat, tengah, dan timur. Semakin ke arah barat bumbu yang digunakan untuk mengolah makanan semakin beraneka ragam. Hal ini disebabkan oleh dekatnya daerah-daerah tersebut dengan lautan Hindia sehingga terjadi akulturasi budaya di sana. Sebaliknya dengan wilayah timur, bumbu yang digunakan kurang beraneka ragam atau hanya itu-itu saja. Namun soal selera, tentunya orang-orang memiliki preferensi yang berbeda-beda.
Di Aceh, ada 39 jenis rempah yang bermacam-macam, mulai dari rempah umum seperti garam sampai rempah yang kurang ‘sreg’ di telinga seperti ganja. Ganja akan menimbulkan zat aditif atau efek psikotropika bila dihirup langsung atau sebagai tambahan dalam rokok. Tapi kalau dimakan tidak akan menimbulkan efek negatif bila dikonsumsi dengan wajar. Perbedaan ini disebabkan oleh indra yang menangkap rangsangan. Bila menghirup memakai hidung dan sampai ke organ pernafasan, maka memakan menggunakan lidah dan sampai ke organ pencernaan.
Pada masa penjajahan Belanda Pangeran Diponegoro memberontak melawan pihak Belanda. Singkat cerita 40 orang pengawal Diponegoro dibuang ke Sulawesi Selatan yang mayoritasnya beragama Kristen. Di sana, ada satu kampung yang bernama Kampung Jawa yang berisi keturunan 40 Pengawal Diponegoro yang mana sebagian dari mereka ada yang kawin mengawin dan ada yang melakukan perpindahan agama. Mereka semua tentunya fasih berbahasa Jawa. Akibatnya budaya makanan di sana juga tercampur karena pertemuan dari pengawal-pengawal Diponegoro dengan orang-orang di sana.
Demikian 3 fakta yang saya bagikan. Semoga dapat berguna bagi kita semua. Sekian untuk tulisan kali ini. Terima kasih.
Danau Tondano, Sulawesi Utara. Sumber: https://tinyurl.com/ybr9sd2h
Indonesia menyimpan kekayaan alam yang sangat melimpah. Di 34 provinsi di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri soal sumber dayanya. Salah satu daerah di Indonesia, yaitu Provinsi Sulawesi Utara tepatnya di sekitar Danau Tondano terdapat nira aren dengan jumlah yang melimpah. Awalnya kelapa nira aren dipakai untuk membuat tuak. Tuak adalan minuman fermentasi beralkohol yang berasal dari nira. Hal itu awalnya sudah melekat menjadi kebiasaan. Tuak yang sudah jadi dijual di dalam botol untuk minum. Tujuan awalnya ya memang untuk mabuk-mabukan. Singkat cerita keadaan ingin dibuat lebih tertib. Orang-orang lokal di sana diberi pengayaan atau pelatihan sehingga memiliki proses perubahan makanya mau dibuat lebih tertib. Makanya nira aren yang tadinya dibuat tuak dikonversi menjadi produk gula merah. Pembuatannya terbilang cenderung sederhana. Pertama batang dituang dan hingga keluar air gulanya. Setelah itu, gula dipanaskan hingga konsentrasi 20 persen. Jumlah gula sdemikian dapat menghasilkan etanol dan sirup.
Bila gula dimasukkan ke fermentor dan diberi yeast dapat menghasilkan bioetanol. Bioetanol dapat digunakan sebagai energi. Sebenarnya selain kelapa aren banyak sumber daya alam yang tersedia. Hal itu dapat mendukung atau menyokong komunitas lokal. Selain penghasil tuak, bioetanol, dan gula merah, juga terdapat instalasi biogas, pupuk. Limbah pun segera diolah misal limbah minyak dapat dipakai untuk menggoreng. Hal ini berujung kepada zero waste sustainable. Zero waste dapat dibilang aksi, pedoman, visi, prinsip dll. Intinya dengan adanya zero waste masa depan daerah tersebut akan tergolong baik karena limbah yang dihasilkan akan seminimal mungkin. Bila limbah dihasilkan limbah akan diolah lagi dan dipakai lagi. Namun, yang terpenting adalah kemauan dan tanggung jawab masing-masing individu. Tidak hanya masyarakat di Danau Tondano, tetapi juga seluruh masyarakat di Indonesia bahkan di dunia. Jadi tunggu apalagi sobat, ayo manfaatkan sumber daya di Indonesia agar kita dapat menjadi bangsa yang mandiri. Namun, penggunaannya harus diiringi dengan rasa tanggung jawab ya. Sekian dulu untuk tulisan kali ini.
Makan adalah hal yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia. Makanan dapat memenuhi kepuasan emosional
dan kebutuhan nutrisi bagi tubuh. Dengan melakukan kegiatan ini, kita juga
mampu mempererat hubungan sosial antara teman maupun keluarga. Dalam memilih
makanan maupun minuman yang akan dikonsumsi, pilihan tersebut cenderung
dipengaruhi oleh kebiasaan makan individu masing-masing. Kebiasan makan tidak
hanya menjelaskanbagaimana piluhan
makanan, namun bagaimana pengolahan makanannya dan sebagainya. Ada banyak
sekali kebiasaan individu akan menentukan pilihan. Berikut faktor-faktor yang
memengaruhi kebiasaan makan seseorang:
1.Agama:
Di
beberapa aliran agama Buddha penganutnya menganut diet vegetarian yang berarti
secara garis besar tidak boleh memakan hewani. Begitu pula dengan penganut
agama Islam yang tidak makan Babi dan penganut agama Hindu tidak makan sapi. Kebiasaan
makan seperti ini cenderung menimbulkan keterpaksaan terkadang. Namun, untuk
penganut yang taat tidak akan merasa terpaksa karena memang sudah kewajiban
individu masing-masing.
2.Ekonomi:
Faktor
ini merupakan skala besar dari faktor kesejatreraan. Bila perekonomian lebih
baik, maka pola makannya cenderung akan lebih baik. Contoh pola makan di Jepang
lebih baik Zimbabwe, Fiji, Samoa dll.
3.Suku/bangsa:
Kebiasaan
makan di setiap bangsa berbeda-beda. Ada beberapa negara yang mangkoknya tidak
boleh diangkat. Contoh lain adalah negara kita sendiri Indonesia. Di Indonesia
makan tidak boleh sendaw karena tidak sopan. Namun, kalau di Jepang sehabis
makan harus sendawa agar menghargai pemasak makanan di sana. Hal itu berarti
penegasan bahwa makanan yang dimakan enak.
4.Lingkungan/keluarga:
Lingkungan
yang berbeda dan keluarga yang berbeda akan menghasilkan kebiasaan makan yang
berbeda. Contoh orang Batak memotong anjing secara biasa, namun orang Manado mematikan
anjing dengan merendam dalam air sampai mati untuk diolah sebagai makanan.
5.Geografis:
Letak
geografis akan memengaruhi kebiasaan makan. Hal itu disebabkan oleh
ketersediaan bahan makanan yang akan diolah juga. Contoh masyarakat yang
tinggal di pesisir biasanya gemar mengonsumsi ikan. Masyarakat yang tinggal di
hutan biasanya gemar memakan sayuran dan hewan buruan. Keterpaksaan geografis
terkadang mengakibatkan orang merubah perilaku makannya.
6.Kebutuhan khusus:
Kebutuhan
khusus beberapa orang akan mengubah perilaku makannya. Contohnya alergi
terhadap nasi, gluten pada tepung terigu (celiac
disease), alergi pada gula susu (lactose
intolerance) dan sebagainya. Orang yang sakit diabetes dan sakit jantung
memiliki beberapa pantangan makanan seperti tidak boleh mengonsumsi makanan
manis alami dan makanan berlemak secara berlebihan, bahkan tidak boleh
mengonsumsi sama sekali tanpa toleransi.
7.Pendidikan:
Orang
yang berpendidikan dengan orang yang kurang berpendidikan dapat memiliki
kebiasaan makan yang berbeda. Orang yang berpendidikan akan sadar kesehatan
dengan tidak sembarangan memakan dengan tangan dan harus mencucinya dengan air
mengalir dan sabun atau sanitizer. Semakin tinggi pendidikan maka individu akan
semakin selektif dalam memilih makanan.
8.Usia:
Usia
seseorang akan memengaruhi kebiasaan makan mereka. Contoh anak kecil dengan
umur tertentu belum dapat memakan nasi. Begitu pula dengan lansia yang
makanannya dibatasi.
9.Teknologi:
Teknologi
di bidang pangan semakin berkembang pesat. Contoh es krim yang memakai nitrogen
cair yang didinginkan, agar es tidak mudah meleleh. Kekayaan teknologi di
bidang pangan akan menambah ragam kebiasaan makan setiap kaum. Pasti tidak sadar kan dengan faktor yang satu ini..
10.Kesejahteraan:
Kesejahteraan
sangat berkaitan dengan kebiasaan makan. Misalnya seseorang yang hidupnya masih
sederhana gemar memakan bakso dan jagung bakar di pinggir jalan. Namun, hal itu
mungkin tidak akan dilakukan lagi ketika orang tersebut sudah cukup mapan dan
bergengsi. Kesejahteraan yang baik dapat
membuat orang mengonsumsi makanan dengan harga yang wah! Contoh lain jajaran
tinggi perusahan yang gemar mengonsumsi sup pipi ikan karena dagingnya mahal
supaya terlihat gengsinya di depan orang lain.
Melihat ada cukup banyak
faktor-faktor di atas, maka faktor-faktor tersebut akan berpengaruh nantinya di
masa depan. Faktor-faktor tersebut akan diturunkan terus dari generasi ke generasi.
Hal itu tentunya akan berubah menjadi budaya makanan yang akan melekat dan
menjadi kearifan lokal. Sekian untuk tulisan saya kali ini, terima kasih.